Powered By Blogger

Sabtu, 26 Februari 2011

SEGO SAK PINCUK SEWU DOLAR

SEGO SAK PINCUK SEWU DOLAR

SUDAH satu minggu ini Semar asyik menata rumah. Tembok yang olong ditambal semen dan dicat ulang. Untuk urusan dapur, Kanastren menyiapkan menu spesial.

Tapi aneh, tidak seperti biasanya Bagong mengurung diri di kamar. ” Wow, cukup Siti Nurbaya yang mengalami pahitnya dunia.” Penuh emosi, dengan suara yang cemet tapi dalam, Bagong terus rengeng – rengeng nembang. ” Oalah, jen se – sexsy Dewi Persik, ’ pa mbok tolak juga, Gong ... ? Lambemu ndower, Le ...,” celetuk Gareng. Tapi, Bagong udah mantepin qolbu. Udah nggak zamannya dijodoh – jodohin. Jadul abis, basi, bo’ ...!!
Itu beda dengan pemikiran Semar. Sang Romo sudah percaya dengan pilihannya, besanan dengan opung Obama. Tur apa kata dunia yeng Bagong, wis elek, bujang lapuk lagi, batin Semar.
Bagong pun bak makan simalakama. Kalau dimakan si Romo tewas, enggak dimakan si Ibu yang dut ... Njur Kepriwe, beibeh ... ? Pas semua pada ribut eyel – eyelan menu, Bagong diam – diam nylinthis dan wuzzz ... lari secepatnya. Ndilalah-nya, tepat ditikungan, tak sengaja hanya sak detik Bagong sempat ngelirik rumahnya. Ndak dinyana, ada batu besar didepannya. Tuing, tuing, tubuh Bagong terpontal – pontal mengikuti alur tanah yang menurun. Tubuhnya yang bunder seser lemu linthu ngglundung sampai ke bawah. Akhirnya, hekkggh, Bagong menahan sakit lantaran dadanya kesandhung tukulan asem.
Bagong diam sesaat memulihkan kondisi yang agak nggliyeng. Ini mah arah telaga gue biasa clulum ma sohib kental, batin Bagong. Ni telaga bukan asal telaga broer ! Fasilitas water boom di dunia wayang, dah lama, gratis, mewah lagi men. Tapi, suasana sore itu sudah sepi. Padahal, hari belum sore – sore amat. Sembari melihat bagian yang lecet – lecet, Bagong berjalan mendekat.
Telinga Bagong yang njebeber di njembewekkan lagi. Sinyal renyah cekikikan para ladies tertangkap gendang telinga yang langsung disambut detak jantung. Otak mengolahnya menjadi Piktor ( Pikiran Kotor ). Sementara, dari balik rimbun dedaunan, kilatan mata Bagong menangkap siluet – siluet semlohai yang sedang asyik bermain air.
Si Putih, montok berambut sebahu meluncur mengikuti alur melingkar. Air yang tersibak memercik wajah Bagong. Gemeteran, Gregetan, dan Grengosan Bagong dibuatnya. Bagong lalu nyaut setumpuk pakaian yang terjangkau. Dipeluk – peluk, dielus – elus dan dicium – cium sebagai pelampiasan. Setelah satu jam Bagong kemropok, para ladies bersiap untuk balik.
Tapi, Si Putih bimbang. ” I am sure di sini tadi gue taruh my cloths, “ katanya berlogat kaya’ artis Cinta Lauriyem. Kata – kata itu terbaca oleh Bagong. Pelan – pelan, dia hampiri Si Putih yang menangis sesenggukan. Dia ulurkan pakaian Si Putih. ” Eits, entar dulu. Mau jadi pacar gue kagak ? Oce ?” ujar Bagong.
Si Putih bimbang lagi. Ya wis, dari pada tetap wuda blejet sambil kedinginan, dia menganggukan kepala. ( Oh ya, Ki Dalang-e hampir lupa ngasih nama Si Putih. Nama Cewek itu adalah Hillarywaty ).
Keluguan dan kelucuan Bagong mengakrabkan sejoli kasmaran tersebut. Sendau gurau nan romantis mewarnai perjalanan mereka kembali ke Karang Kedempel.
Bakal ada surprise di rumah, nih, pikir Bagong. Tapi, sampai dirumah Ki Semar malah myekekek. ” Le, ntu nyang Daddy maksud, pegimana ? Lu demen kagak? ” kata Semar. Bagung pun Cuma bersemu merah. Dia angkat jempolnya. ” Sip .... lah ! ”
Singkat kata, pesta mewah besar – besaran diadakan di negara bernama Adikuasa, tanah kelahiran Hillarywaty. Morning after night of first ( malam pertama, maksudnya, hehehe ), masih dalam balutan baju mandi, Hillarywaty masuk kamar dengan nampan berisi segelas susu dan tiga tumpuk hamburger.
” Mamih, bisa gering kyeh yen carane begini,” ujar Bagong sambil tetap makan hamburger. ” I know. Papih maksud rice , kan? No problem, ” jawab Hillary.
Dalam sekali kelebat masuk ruangan rahasia, Hillarywaty sudah keluar dengan se-sepon nasi Cisadane yang kemebul wangi. Bagong sangat dokoh nyantapnya.
Satu hari, seminggu, sebulan, setahun, seiring bergulirnya waktu Bagong penasaran. Ada apa behind next door. Masa selama 24 jam sega liwet bisa cepat tersaji.
Jiwa nylintisan Bagong kambuh pas Hillarywaty keluar belanja. Bujubuneng, ternyata ruangan penuh mesin pabrik yang mengolah limbah menjadi beras rafinasi yang mengandung formalin tinggi plus asam benzoate plus borak.
Bagong sudah ” sak leher ” saat Hillarywaty masuk rumah seperti biasanya. Plaak, tamparan telak mengenai wajah. Belum sempat tersadar tamparan kedua menyusul. Hillarywaty berlari ke rumah orang tuanya yang tak jauh.
Opung Obaman agak panas juga anak semata wayang diberlakukan kasar. Detik itu juga dipanggilnya Semar, rapat keluarga digelar. ” Ya begitulah hubungan suami istri, bukankah romantis ? ” bela Semar.
” Tapi, Dek Bagong main pukul pada istrinya sendiri, maaf nih kalau istrimu buat nasi rafinasi. Sebab, dunia lagi krisis pangan. Nasi sebungkus harganya seribu dolar. Brasil stop impor beras, so India juga,” terang Opung Obaman. Semar mengusulkan bagaimana untuk meredakan suasana dan nantinya biar lebih kangen lagi, Bagong dan Hillarywaty berpisah sementara.
Dalam pesawat yang membawa mereka Semar bertutur ” Lu percaya Gong bahwa dunia akan krisis pangan ? Bukannya itu politik dagang mereka aje ? ” bisik Semar. Bagong hanya tercenung. Sampai di Karang Kedempel, mereka tanami tanah kosong dengan tumbuhan yang bisa bikin perut kenyang hadapi krisis sega sak donya. ( Cahyo )

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

PUKULAN Kamahame yang dilepas Anoman meninggalkan lubang besar di tanah. Dada Rahwana menghitam. Dari sela bibirnya menetes darah segar. Anoman lantas mengeluarkan full power dan ciaatttt ... ! Sekali pukul, tubuh Rahwana terlontar jauh. Tubuh itu terjerembab terempas bumi dia antara dua gunung.
Diakhiri lengking kesakitan Rahwana yang terakhir, kedua gunung dirapatkan oleh Anoman. Ngalengka pun ditinggal Rahwana dalam kondisi luluh lantak memasuki zaman kegelapan.
Di tengah reruntuhan puing, Semar atau Ki Bodronoyo, Bagong , dan puluhan sisa pasukan Ngalengka mengerumuni Dede Bisa Warna alias Dede BW, raja New Alengka.
” Paman, kita lakukan perjalanan jauh hanya demi kebangkitan New Ngalengka,” ujar Dede BW serius. Semar menerawang jauh. Sang Badranaya itu mengingat – ingat beberapa nama yang mungkin bisa diwujudkan sebagai patung. Patung itu lantas didirikan di pusat kota New Alengka untuk jadi panutan warga dan simbol kebangkitan Ngalengka.
Pikiran Ki Lurah Semar berputar – putar sampai ’ mumet, tapi tak satu nama pun ’ nyantol. Bagong juga hanya angkat bahu ketika Semar minta pendapat. ” Museum Wayang Ngastina, kali, Mo,” jawab punakawan gendut bermata lebar itu. Semar menyunggingkan senyum di bibir. Lalu, dengan jip perang, mulailah perjalanan mereka bertiga.
Menjelang siang, mereka sudah di pusat Ngastina. Sapa ramah Mr. Togog menyambut kedatangan tiga tamu tersebut. Dede BW mengutarakan maksud.
Wah, kesempatan tancapkan supremasi wayang Ngastina untuk kultuskan lagi, batin Togog.
Benak Togog pun berputar mencari jalan. Dia lalu pamit ke belakang. Selang beberapa menit, regol utama terbuka. Dari kotak satu ke kotak lainnya, mata dan tangan Semar lincah mengobrak – abrik.
” Mo, aneh ... Masa kotak isinya hanya wayang raksasa,” ucap Bagong. Semar Cuma diam, namun batinnya mengiyakan. Setelah itu, Semar ’ Mbisiki Dede BW sambil menunjukkan kejanggalan . Ternyata, Dede BW sedikit muntab. ” Bakar aja giman ? ini sudah pembodohan publik, ” serunya.
Semua diam. Dede BW langsung nyamber jerigen di belakang jip. Dia tumpahkan isinya di antara tumpukan rongsokan. Hooy, apa itu di pojok ruangan? Terlihat sesuatu yang bercahaya di antara tumpukan rongsokan. Alangkah kagetnya Dede BW. Bukankah itu Prodo Gatotkaca ?
Di tariknya Prodo itu sekuat tenaga . Ternyata betul. Tapi, Gatotkaca sudah jadi raksasa. “ Jangan kaget, ya bergini ini ujud asliku, “ kata Gatotkaca. Ksatria Pringgadani yang putra Bima itu pun bicara panjang lebar. Dia menerangkan , untuk tujuan kebangkitan bangsa, jangan cari orang yang terlalu heroik. Carilah makna kepahlawanan dan kebangkitan pada diri orang biasa saja.
Dede BW pun langsung lari dan menarik tangan Semar dan Bagong. Gas jip digas habis oleh Dede BW.
Memasuki tengah hari, perjalanan mereka melewati sebuah sekolah yang aneh. Di atas sapu lidi terbang, para murid berkejar – kejaran. “ Hey men, catch me, Ok,” sebuah tantangan terdengar di atas jip yang melaju. Harry Potter !
Dede BW pun terkagum – kagum. Ini anak cakep, pintar sihir, dan pake kacamata lagi, batinnya. Dede BW keluar jip dan berseru, “ Hey You ! Do U want come to may country n become stone ?”
“ What … ? To Kang What Too ( baca : Tukang Watu ) ? No, thanks, “ jawab Harry Potter sambil berkelebat hilang. Dede BW misuh, “ Dasar, arek budheg !! “ Perjalanan selanjutnya lebih banyak diselimuti keheningan. Perjalanan pun seolah tanpa arah. Tak dinyana, mereka masuk daratan Eropa. Di kedai fast food sederhana, sambil melepas lelah, mereka mencari info sosok tokoh yang bisa dianut New Alengka. Setelah mendapatkan nama dan alamat lengkap, mereka melanjutkan perjalanan.
Tapi, perjalanan mereka terasa aneh. Tiga orang itu seperti terjebak dalam labirin yang memusingkan. Berbagai arah dituju, mereka kembali ke tempat semula lagi. Wajah Dede BW meradang. Seisi kebun binatang lanyah keluar dari mulutnya.
Lewat alat GPRS, Semar mencoba memperbaiki waktu. Tapi, tambah mbruwet. Bagong yang pegang kemudi pun terperosok dalam lubang gelap. Setengah sadar setengah lali, mereka ada di ruang pembuangan air yang berbau busuk.
” Maaf, bos. Ini dimana ? Tau Einstein? ” tanya Bagong memberanikan diri pada sosok wagu yang dia jumpai. Tapi, orang itu – rambutnya putih dan full jegrik – malah mbesengut. Dia mentheleng dan gelengkan kepala seraya membisikkan sesuatu yang tak jelas. Detik berikutnya, orang itu malah tambah jingkrak – jingkrak bak orang gila.
Bagong malah kesenengan. Dia ikut orang misterius itu jingkrak – jingkrak. Semar yang akhirnya ceria setelah HP-nya bisa konek internet kembali mengucek – ucek mata. ” Jabang bayik ... Bukannya yang jingkrak – jingkrak dengan Bagong itu Einsteins! Albert Einsteins ya ? ” katanya. Tapi, si misterius berambut njeprak itu mengelak. ” No ... no ... E sama dengan Em Ce Kuadrat,” jawabnya. Di desak bergitu rupa, si misterius tetap mengelak. Ya, dia Einsteins si jenius yang luar biasa.
Tapi, mereka lalu teringat pada pesan Gatotkaca : belajarlah pada orang biasa. Semar pun menyarankan mereka ’ balik kucing ke Alengka. Dari teori relativitas, dipetik hikmah bahwa tidak ada orang yang bisa dijadikan ukuran kecuali utusan Tuhan. Dede BW menyetujui.
Memasuki 10 kilometer sebelum Ngalengka, perjalanan tersendat oleh kirab perempuan dan ibu – ibu yang berjarik dan bersanggul. Seorang ibu bilang, mereka sedang merayakan Hari Kartini. ” Paman, Hebat ! Kartini bisa kita jadikan patung di Alengkkhgghhprtt ... ” belum selesai ngomong, Dede BW sudah dibekap semar.
” Tak usahlah kamu berpikir buat patung Kartini di Ngalengka. Kamu punya Mbak Buyutnya, Dewi Sukeksi. Dia perempuan berani yang menafsir Aji Sastro Jendro sampai dikutuk berketurunan raksasa alias buta,” kata Semar. Dede BW terkekek dan baru ingat. Dia lalu meloncat keluar jip dan ngeloyor pergi untuk membeli sanggul, oleh – oleh untuk Eyang Sukeksi. Semar dan Bagong saling senyum. Dede udah bisa belajar mbangun kota dengan spirit kerja, bukan dengan iming – iming apalagi buat patung dan nunggu hadiah Adipura.(Cahyo).

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

PUKULAN Kamahame yang dilepas Anoman meninggalkan lubang besar di tanah. Dada Rahwana menghitam. Dari sela bibirnya menetes darah segar. Anoman lantas mengeluarkan full power dan ciaatttt ... ! Sekali pukul, tubuh Rahwana terlontar jauh. Tubuh itu terjerembab terempas bumi dia antara dua gunung.
Diakhiri lengking kesakitan Rahwana yang terakhir, kedua gunung dirapatkan oleh Anoman. Ngalengka pun ditinggal Rahwana dalam kondisi luluh lantak memasuki zaman kegelapan.
Di tengah reruntuhan puing, Semar atau Ki Bodronoyo, Bagong , dan puluhan sisa pasukan Ngalengka mengerumuni Dede Bisa Warna alias Dede BW, raja New Alengka.
” Paman, kita lakukan perjalanan jauh hanya demi kebangkitan New Ngalengka,” ujar Dede BW serius. Semar menerawang jauh. Sang Badranaya itu mengingat – ingat beberapa nama yang mungkin bisa diwujudkan sebagai patung. Patung itu lantas didirikan di pusat kota New Alengka untuk jadi panutan warga dan simbol kebangkitan Ngalengka.
Pikiran Ki Lurah Semar berputar – putar sampai ’ mumet, tapi tak satu nama pun ’ nyantol. Bagong juga hanya angkat bahu ketika Semar minta pendapat. ” Museum Wayang Ngastina, kali, Mo,” jawab punakawan gendut bermata lebar itu. Semar menyunggingkan senyum di bibir. Lalu, dengan jip perang, mulailah perjalanan mereka bertiga.
Menjelang siang, mereka sudah di pusat Ngastina. Sapa ramah Mr. Togog menyambut kedatangan tiga tamu tersebut. Dede BW mengutarakan maksud.
Wah, kesempatan tancapkan supremasi wayang Ngastina untuk kultuskan lagi, batin Togog.
Benak Togog pun berputar mencari jalan. Dia lalu pamit ke belakang. Selang beberapa menit, regol utama terbuka. Dari kotak satu ke kotak lainnya, mata dan tangan Semar lincah mengobrak – abrik.
” Mo, aneh ... Masa kotak isinya hanya wayang raksasa,” ucap Bagong. Semar Cuma diam, namun batinnya mengiyakan. Setelah itu, Semar ’ Mbisiki Dede BW sambil menunjukkan kejanggalan . Ternyata, Dede BW sedikit muntab. ” Bakar aja giman ? ini sudah pembodohan publik, ” serunya.
Semua diam. Dede BW langsung nyamber jerigen di belakang jip. Dia tumpahkan isinya di antara tumpukan rongsokan. Hooy, apa itu di pojok ruangan? Terlihat sesuatu yang bercahaya di antara tumpukan rongsokan. Alangkah kagetnya Dede BW. Bukankah itu Prodo Gatotkaca ?
Di tariknya Prodo itu sekuat tenaga . Ternyata betul. Tapi, Gatotkaca sudah jadi raksasa. “ Jangan kaget, ya bergini ini ujud asliku, “ kata Gatotkaca. Ksatria Pringgadani yang putra Bima itu pun bicara panjang lebar. Dia menerangkan , untuk tujuan kebangkitan bangsa, jangan cari orang yang terlalu heroik. Carilah makna kepahlawanan dan kebangkitan pada diri orang biasa saja.
Dede BW pun langsung lari dan menarik tangan Semar dan Bagong. Gas jip digas habis oleh Dede BW.
Memasuki tengah hari, perjalanan mereka melewati sebuah sekolah yang aneh. Di atas sapu lidi terbang, para murid berkejar – kejaran. “ Hey men, catch me, Ok,” sebuah tantangan terdengar di atas jip yang melaju. Harry Potter !
Dede BW pun terkagum – kagum. Ini anak cakep, pintar sihir, dan pake kacamata lagi, batinnya. Dede BW keluar jip dan berseru, “ Hey You ! Do U want come to may country n become stone ?”
“ What … ? To Kang What Too ( baca : Tukang Watu ) ? No, thanks, “ jawab Harry Potter sambil berkelebat hilang. Dede BW misuh, “ Dasar, arek budheg !! “ Perjalanan selanjutnya lebih banyak diselimuti keheningan. Perjalanan pun seolah tanpa arah. Tak dinyana, mereka masuk daratan Eropa. Di kedai fast food sederhana, sambil melepas lelah, mereka mencari info sosok tokoh yang bisa dianut New Alengka. Setelah mendapatkan nama dan alamat lengkap, mereka melanjutkan perjalanan.
Tapi, perjalanan mereka terasa aneh. Tiga orang itu seperti terjebak dalam labirin yang memusingkan. Berbagai arah dituju, mereka kembali ke tempat semula lagi. Wajah Dede BW meradang. Seisi kebun binatang lanyah keluar dari mulutnya.
Lewat alat GPRS, Semar mencoba memperbaiki waktu. Tapi, tambah mbruwet. Bagong yang pegang kemudi pun terperosok dalam lubang gelap. Setengah sadar setengah lali, mereka ada di ruang pembuangan air yang berbau busuk.
” Maaf, bos. Ini dimana ? Tau Einstein? ” tanya Bagong memberanikan diri pada sosok wagu yang dia jumpai. Tapi, orang itu – rambutnya putih dan full jegrik – malah mbesengut. Dia mentheleng dan gelengkan kepala seraya membisikkan sesuatu yang tak jelas. Detik berikutnya, orang itu malah tambah jingkrak – jingkrak bak orang gila.
Bagong malah kesenengan. Dia ikut orang misterius itu jingkrak – jingkrak. Semar yang akhirnya ceria setelah HP-nya bisa konek internet kembali mengucek – ucek mata. ” Jabang bayik ... Bukannya yang jingkrak – jingkrak dengan Bagong itu Einsteins! Albert Einsteins ya ? ” katanya. Tapi, si misterius berambut njeprak itu mengelak. ” No ... no ... E sama dengan Em Ce Kuadrat,” jawabnya. Di desak bergitu rupa, si misterius tetap mengelak. Ya, dia Einsteins si jenius yang luar biasa.
Tapi, mereka lalu teringat pada pesan Gatotkaca : belajarlah pada orang biasa. Semar pun menyarankan mereka ’ balik kucing ke Alengka. Dari teori relativitas, dipetik hikmah bahwa tidak ada orang yang bisa dijadikan ukuran kecuali utusan Tuhan. Dede BW menyetujui.
Memasuki 10 kilometer sebelum Ngalengka, perjalanan tersendat oleh kirab perempuan dan ibu – ibu yang berjarik dan bersanggul. Seorang ibu bilang, mereka sedang merayakan Hari Kartini. ” Paman, Hebat ! Kartini bisa kita jadikan patung di Alengkkhgghhprtt ... ” belum selesai ngomong, Dede BW sudah dibekap semar.
” Tak usahlah kamu berpikir buat patung Kartini di Ngalengka. Kamu punya Mbak Buyutnya, Dewi Sukeksi. Dia perempuan berani yang menafsir Aji Sastro Jendro sampai dikutuk berketurunan raksasa alias buta,” kata Semar. Dede BW terkekek dan baru ingat. Dia lalu meloncat keluar jip dan ngeloyor pergi untuk membeli sanggul, oleh – oleh untuk Eyang Sukeksi. Semar dan Bagong saling senyum. Dede udah bisa belajar mbangun kota dengan spirit kerja, bukan dengan iming – iming apalagi buat patung dan nunggu hadiah Adipura.(Cahyo).

SEMAR SEWU

BIAS sang kala merah masih menghiasi timur kaki langit. Dalam suasana sepagi itu, terdengar seloteh riang dari sebuah pelataran di karang kedempel tempat dimana Ki Semar Bodronyono mendhito. ” Kelonan, eh ... dudu ding. Klo ... kloning wedus aja bisa. Apalagi, Romo. Dikloning pasti bisa, ” suara Gareng dengan nada mengejek. Suara itu sengaja dikeraskan.
Sembari menyapu halaman , Bagong menambahkan. ” Kehidupan dipastikan ada di planet lain. Bisa jadi kehidupan itu lebih bijak dan antipolitik, ” kata punakawan bermata sebesar lepek cangkir itu. Petruk menimpali tak mau kalah. ” Jauh amat, liat tivi sekarang ! Presiden aja bisa ada kopiannya, ” kata si hidung panjang.
Gus Semar mendengar celoteh kaleng rombeng anak – anaknya itu. Kupinge kemropok, tapi hati tetap cold. Di depan komputer jadul, tangan dan matanya tak pernak lepas ngulet – ngulet mouse. Dia berkeliling dunia via satugel Earth. ” Apa benar ?” batinnya. Dia tahu, anak – anaknya mengikuti iptek. Semar pun terombang ambing di ambang kebimbangan.
Satelit Satugel Earth tak sengaja berhenti di negeri Uncle Sam. Semar melihat panji – panji partai mulai dikabarkan. Salah satu tim sukses kandidat presiden mengangkat tema perdamaian yang mungkin bisa mendongkrak suara untuk Obama. Wah, lha ini saingan gue, batin Gus Semar.
Diam – diam, Semar mengirim raga menembus Satugel Earth. Tiba – tiba, dia berdiri di bawah kaki Obama. Pendukung Obama pun melihat kejanggalan dalam orasi kali ini. Cause, kaki Obama diithik – ithik Semar yang terus membisikkan sesuatu. Bisikan itu diulang laksana teror. Kelaparan ... Kasus Bayi gizi buruk ... Alhasil, di puncak orasi, Obama berkata “ Sebagai bangsa yang besar, dari pada berperang lebih baik kita kuatkan makan kita. Hidup makan !! “ Mendadak, semua pendukung terdiam. Cepat Obama menambahkan maksudnya, khususnya orang Amrik dan dunia umumnya, bisa makan sejahtera. Tepuk tangan pun segera susul menyusul.
Obama mencari siapa yang membisiki dan mengithik – ithik kakinya. Tapi, nihil. Dia mencari jauh ke belakang. Dari jauh, pandangan mereka beradu. Mata Semar seolah berbicara. Bukan kau ... bukan kau ... Kulitmu terlalu gelap untuk Semar. Dah yang pasti, kau tidak independent. Bisikan masih memengaruhimu.
Tubuh Gus Semar menegang sesaat saat dia melepaskan diri dari dunia maya Satugel Earth. Dia kembali ke depan komputernya. Saat raganya kembali, si manis mendadak meloncat. Makian singkatpun mengudara “ Gundul elek ! Kucing aleman ! Bokong montokku mbok kiro pakan po, “ seru Bagong.
Seteguk kopi pahit mengaliri kerongkongan Semar yang kering. Dia heran bukan kepalang. Piranti di depannya begitu jos. Alat secuil, tapi dalam hitungan detik bisa tembus dunia manapun.
Wah, ini biang keraoknya. Semar edisi kedua, kaya dan bijaksana. Kembali lewat Satugel Earth, Sang Badranaya melepas raga. Yang dia masuki adalah pelataran luas yang begitu mewah. Semar pun sampai di depan pintu utama yang luar biasa tinggi. Diketuk, tapi tak ada jawaban.
Gus semar memberanikan diri menarik handle pintu dan slonong boy. Sampai di depan rumah pun nihil. Akhirnya, sampailah Semar di depan ruang khusus. Tampaklah Bill Gates yang serius memandangi layar monitor. So pasti, Semar enggak digagas sama sekali. “ Hey … Lu lagi ngapain? Emangnya enak dicuekin,” serbu Semar. Tangannya yang gendut menutupi layar monitor.
“ Sapa sih lu ? Enak aja. Ini pesanan Indonesia! Software anti situs porno,” ujar Bill Gates. Sadar dengan situasi, Bill Gates menarik Semar lebih dekat monitor. Dan klik sana, klik sini, dengan dingin Gus Semar melihat bagaimana wayang Supraba ditelanjangi. Pose – pose seksi Wilutomo pun terpampang jelas. Semar bisa sedikit tersenyum lega. Bill Gate bukan salah satu yang dicurigai sebagai Semar edisi dua.
Sekembalinya raga Semar ke Karang Kedempel, dia mendekati Dewi Kanastren istrinya. Semar berbisik lembut. Tapi, sang istri menggeleng malu – malu mau. Saking enggak tahannya, Semar menarik Kanastren ke kamar dengan keras. Lagi munthup – munthupnya , Kanastren nyelethuk .”Ih, Daddy apaan sih? Daddy kan enggak jelas cowok apa cewek ! ” Kepala Semar pun mendadak pening.
Dia pun berseru memanggil Bagong. ” Gong, cepaat carikan situs porno, “ teriak Semar sambil tak lupa mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan. Suara Semar yang bercampur emosi pun tak jelas. Dia tambah emosi saat melihat Bagong kembali. Sebab, yang dibawa adalah sekilo Pilus Mbah Rono.
Tambah emosi, suara Semar pun tak karuan. Gareng yang diperintah juga tak paham. Yang dibawa Gareng adalah ratus ( pewangi sembahyang ) Pronocitro. Tapi, dari situ Semar tersadar. Dia tahu satu tempat orang – orang yang bisa bersembunyi di balik harumnya asal ratus untuk menutupi bau rokok yang bagaimana gichu ...
Dengan pit onthelnya, Semar menuju Gedung Perwakilan Rakyat Ngamarta. Dengan terheran – heran, Semar melihat ribuan orang yang punya wajah mirip dirinya. Maka Gus Semar pun memutuskan memecat salah satu Semar yang berpolitik. ( Cahyo )

UNDERGROUND

HIAA..T !! Ala jagoan, Bagong meloncat dari motornya. Masih berseragam abu – abu, dia raih remote control. Breaking New : pertunjukan band aliran underground di Asia Afrika Cultural Center Student berujung maut. Puluhan penonton tewas terinjak – injak.

Usaha Bagong untuk mencopoti seragam seketika berhenti. Berjuta tanya hinggap di kepala Bagong yang anak band itu. Underground ? Aliran musik macam apa itu ? Dari mana wabah underground. Dan kenapa harus segitunya ?
“ Truk, latihan karawitanmu itu jelas underground. Jelas itu. Lha itu, ada unsur pemukulan, “ kata Bagong. Petruk yang sedang nglanyahke genderan Uler Kambang hanya menjulurkan lidah plus mentheleng. “ Under itu bawah. Ground itu tanah. Bawah tanah ? Dadine yo pohung. Yen anget nyam…nyam…” Goda Petruk. Gantian sekarang Bagong yang mentheleng. Matanya yang selebar lepek gelas membelalak. Dia seketika nyemplak motor. Deru gas motor itu perlahan – lahan menghilang diiringi tawa Petruk.
Tujuh turunan dan tujuh tanjakan telah dilalui Bagong. Tapi, dia masih belum nemu titik terang perkara underground. Padahal, matahari telah lingsir ke barat. Malam sudah membayang. Sampai akhirnya Bagong melihat orang yang berarak menuju suatu tempat. Bagong pun mengikuti. Bisa jadi ini underground, feeling-nya.
Dari kejauhan terdengar suara. “ Kakang Ahmad Daniel, tahukah engkau bahwa Cemplon Maiya sering kongko – kongko dengan pengusaha restoran cepat saji ?” Kalimat bersuara kung itu meluncurkan dari bibir Ki Dalang Arjuna yang tengah memainkan wayang Madame Nyoh Ana. “ Oh ya ? Di mana ? Thanks infonya,” suara Kakang Ahmad dingin menjawab.
Penonton kian penasaran soal kelanjutan perseteruan harta gono – gini pasangan top Ahmad Daniel dan Cemplon Maiya. Tapi, keasyikan penonton itu terusik. Puluhan aparat mengepung area pementasan. Aparat bersikukuh bahwa acara itu harus segera dibubarkan. Mereka bilang, acara itu harus dibubarkan lantaran belum dapat izin dari Jenderal Kresna, penguasa keamanan setempat.
Amarah Ki Dalang Arjuna mbludak.diraihkan Pasopati dan diarahkan ke salah seorang petugas keamanan. Eh,tiba-tiba, “ Den, ati – at, lho. Underground,” celetuk Bagong. Mak plenthus, Pasopati menancap di bokong Bokong. Dengan tersenyum, Bagong mencabut pusaka itu dan dikembalikan ke Arjuna. Baru setelah itu, Bagong tunggang langgang, meraung kesakitan.
Bagong lantas melanjutkan perjalanan. Langkahnya baru berhenti ketika perutnya keroncongan. Ia menuju warung lesehan sederhana “ Monggo Mas “. Dia pesan sepiring nasi plus pecak cucut. Sesuap demi sesuap, makanan berpindah ke mulut Bagong. Sambil menikmati, sriwing – sriwing telinganya mendengar alunan merdu lagu tetembangan.
Perlahan, Bagong mencari sumber suara. Ia bersuara tiga orang yang memainkan coke’an. ” Bu, maaf ! Apa musik yang baru dimainkan termasuk aliran underground ?” tanya Bagong setelah lagu pertama kelar.
Dahi si ibu terlihat berpikir keras. “ Ya iyaaaalah.Under itu bawah, ground itu lesehan. Ya begini ini, Mas, kalau kita ngamen,” kata si Ibu. Bagong kembali manggut – manggut Si ibu kembali bercerita, sudah lesehan aja kadang masih di oprak – oprak keamanan. Menakutkan lah, nanti begini lah, begitu lah,ujung – ujungnya dilarang. Bagong kian takjub. Gila, apa jadinya kalau berkesenian atau main musik dilarang.
Lepas dari warung lesehan, pikiran Bagong makin semrawut. Jawabnya hanya diatas sana, bating Bagong. Dengan sedikit waktu yang tersisa, Bagong menyulap motor kesanyangannya. Motor itu kini dilengkapi sepasang sayap lengkap dengan baling – baling plus roket pendorong. Meluncurlah Bagong ke Kahyangan.
Ternyata, Bagong disambut dentuman sound system dan kilatan lampu ribuan watt. Jebule, para Dewa lagi nanggap grup Iblis yang beraliran underground. Di depan panggung. Bayu terlihat flay. Ia asyik memutar – mutar kepalanya. Tak jauh di sebelahnya, ada Narada. Pinggulnya yang supergeda diputar – putar mengikuti cabikan bas, gemuruh drum, dan lengkingan gitar.
Sudut mata Bagong memicing mencari seseorang. Itu dia, batinnya. Setelah tepat di belakang orang yang dicari, Bagong baru memberanikan diri menyentuh pundak Manikmaya. ” Hehehe, Bos sehat ? Bos, underground tuh apa ? yang bagaimana ?” bisik Bagong. Lama Manikmaya terdiam. ” Under itu bawah. Ground itu dunia. Dunia bawah ! Ya kamu – kamu itu, sudah sana pulang, ” jawab Manikmaya.
Dengan sumringah, cepat motor digas pol kembali turun ke bumi. Saking senangnya, Bagong jadi kehilangan keseimbangan. Rem diinjak habis, tapi motor masih saja melaju dan gedubrak !!.. jatuh tepat di tumpukan kendang kesangan Petruk yang melongo.
Bagong tenang melangkah mendekati Petruk sambil berbisik. Tenang Truk, kita semua underground, utamanya, orang yang tak mau mapan dan ingin kreatif terus. Itulah underground.
Bagong bercanda sementara di seluruh kota aparat membatalkan dan memeriksa semua pentas kesenian. Semua dipukul rata, bahwa pentas seni bisa membawa korban tanpa tahu apa itu underground. ( Cahyo )

AIR MATA MINYAK

Ngastina jatuh dalam genggaman Pandawa lewat perang Bharatayuda yang mengerikan. Namun, kini Ngamarta berada di depan gerbang resesi. Untuk membangun kembali kehidupan dan kebudayaan. Ngastina berjalan tersendat. Negeri itu bahkan menuju kebangkrutan ekonomi. Sekelompok kecil orang yang menguasai negeri hidup bermewah – mewah dan rakus. Itu membuat harga keputuhan pokok melonjak tak terkendali. Belum lagi sisa – sisa pasukan Ngastina yang lari ke gua – gua terus bergerilya secara sporadis. Mereka melakukan teror – teror yang meresahkan. Bharatayuda memang telah mewariskan persoalan pelik. Salah satunya adalah pasukan liar yang dikomandoi Don Kenyut, cucu Patih Sengkuni.

Pada suatu malam, sosok bayangan hitam pelan mengendap. Sosok itu berkelebat dari pagar istana. Itulah si Mata Kelelawar Don Kenyut yang dilengkapi dengan infra red. Ia perintahkan segenap saraf otak untuk bersiaga. Ia berjingkat dekati sasaran. Tapi, sontak dia kaget tatkala ... mak plenyuk ..., kakinya menginjak sesuatu yang masih basah. Ternyata, sialan , jlantah, alias bekas minyak goreng yang masih panas. Tanpa ayal, Don Kenyut nggrunjal – grunjal karenakakinya seperti mengelupas.
Don Kenyut mulet – mulet tak beraturan. Tubuhnya langsung limbung menabrak tumpukan piring kotor yang belum tercuci.
” Sapa iku ?” teriak Desi Rara Limbuk Sekarwati kaget. Don Kenyut terperanggah sedetik. ” Cit ... cit...” dia menirukan suara tikus. Takut dikonangi, cepat – cepat Don Kenyut ngrapal aji panglimunan. Tangannya bergerak cepat. Mak plotrok, kolor ijo yang dipakainya berpindah menutupi sebagian kepala. So, jadi kasat mata, gitu looch.
Pongah, Denyut melangkah masuk ke istana Ngastina. ” Hiiih,” bisik Desi Rara Limbuk Sekarwati dengan bulu tengkut berdiri karena ditiup oleh Don Kenyut. Tanpa rasa takut Don Kenyut berjalan keliling istana. Ketakutan Limbuk semakin menjadi – jadi tatkala terdengar pintu dapur berdenyit membuka sendiri. Mata Desi Rara Limbuk Sekarwati kian mblalak melihat gelas berbunyi sendiri dan piring – piring menari ke arahnya. Desi Rara Limbuk Sekarwati tak kuat menahan takut hingga lunglai semaput.
Penjaga berhamburan mendekat. Mereka mendengar keras Don Kenyut yang menjauh. Penjagaan diperketat, rekaman kamera keamanan ( CCTV ) kembali diputar ulang tapi hasilnya nihil tak ada gambar. Barang – barang berharga tak ada yang hilang, namun seluruh minyak goreng disikat habis oleh maling.
Bima tak ambil pusing dengan kejadian itu semua. Ia sudah jadi pahlawan perang.
Namun seketika Bima uring – uringan melihat sebuah kotak hitam telah terbuka di brankas terbawah. Isinya minyak jarak untuk menggosok tubuh Bima kalau encok menyerang.
Bima marah besar bukan tanpa sebab. Dengan hilangnya kotak isi minyak jarak, jika dia sakit encok tak ada obatnya. Minyak jarak sulit ditemukan di warung – warung.
Tim khusus KOREM ( Komando Rebut Minyak ) segera dibentuk. Anggotanya, John Trukecuk, anak Petruk dan Al Bagio, anak Bagong.
Al Bagio pun segera melakukan riset njlimet pada minyak jelantah yang tumpah pada malam jahanam tersebut. Satu nama muncul Don Kenyut. Telik sandi pun disebar. Maling itu pun sudah terendus posisinya.
Di sebuah rumah di pinggir sungai ciliwung, daerah Cikini, Don Kenyut ngumpet dan tanpa sadar telah dikepung. ” Don Kenyut, keluar ! Kembalikan minyakku, ” teriak Bima. Don Kenyut loncat dari pintu belakang. Dia dikejar Trukecuk pakai Vespa. Al Bagio tak ketinggalan dengan Honda Pletuk.
Don Kenyut pun terpepet sulit bergerak. Ia ambil serbuk dari kantong yang lalu disebar. Seketika itu, dari tanah muncul bangunan Alfamart dan Indomaret. Dua bangunan intu menjual berbagai kebutuhan. Bima terus berlari tak tertarik. Sebaliknya Trukecuk dan Al Bagio malah sibuk belanja. Memakai Taxsi Garuda, dibawanya ke rumah belanjaan gratis. Sampai di rumah, mereka di maki – maki mbah Semar dan disuruh menyusul bos Bima lagi.
Melihat sulapnya gagal, Don Kenyut berlari semakin cepat. Di sebuah tikungan, tangannya kembali merogoh saku. Dia sebar banyak ribuan rupiah, berharap orang – orang berebut uang. Namun, rakyat sedang antre minyak. Jadi, jalanan sepi. Malah Trukecuk dan Al Bagio nongol lalu berebut uang. Ulah punakawan generasi ketiga menghadang laju pengejaran.
Bima tak sabar lagi. Dia dekati Trukecuk dan Al Bagio. ” Cukup !! Kalian pulang saja, belajar sana sama mbahmu Semar biar tak jadi mental tempe,” hardik Bima.
Kemudian Bima pakai aji Seripi Angin berlari secepat jet mengejar Don Kenyut. Semua aral dapat sukses dilalui Bima. Nyali Dul Kenyut bertambah ciut karena saku kantong telah kosong. Kakinya udah gemeter. Don Kenyut mendekati kerumunan orang dan masuk dalam pasar Manggarai. Sementara , sementara jarak Bima semakin dekat. Tak ada jalan lain, Don Kenyut menyandera simbok – simbok penjual minyak goreng di pasar.
Setelah tertolong, Bima duduk bersandar pada meja. Di depannya, orang pasar dari penjual minyak, penjual bumbu, penjual mi ayam, satpam, semua mengelilingi Bima dengan wajah sedih. Selidik punya selidik, ternyata mereka sudah menganggur dua minggu karena harga – harga melambung tinggi dan sepi pembeli. Bima jadi mbrebes mili. Tak menyangka, dia ternyata egois. Dia kejar minyak jarak untuk penyakit encoknya, padahal naiknya minyak goreng lebih membuat rakyat menderita.
Bima melihat drum tempat dia berkubang. Ternyata, isinya bukan cuma minyak. Isi drum itu adalah MINYAK DAN AIR MATA RAKYAT. ‚ ” Ya, aku hanya pecundang , bukan pahlawan, “ Sesal Bima. ( Cahyo )

KELUARGA KORUPTOR SEJAHTERA

Kegelisahan menyeruak di kawasan ibu kota Hastinapura. Terdengar langkah cepat berdebam, pintu ditutup kasar, kursi mewah. – Ketabrak patah. Kulit pisang yang dibuang sembarangan membuat Togog jatuh terjerembab. Lecet – lecet dengkul dan sikunya. Cepat bangun, dia berlari lagi seperti dikejar suster ngesot.
Sampai di pusat istana, Togog cepat kumpulkan penjaga, atur ini – itu. ” Lung, cepat tutup pintu gerbang istana. Siapkan pasukan tembak jitu,” seru Togog kepada Mbilung. Komandonya megap – megap, sembari telunjuk menuding, kata – katanya kadang tak terucap. Padahal, seluruh pintu istana Hastina yang menggunakan keamanan komputer high system telah berfungsi. Istana pun layaknya besi baja bundar yang sulit ditembus.
Togog gugup, masih belum tenang. Cepat dia raih teropong. Jauh di belakang, di jalan raya Hastina, mobil dirusak. Bangunan pemerintah habis disambar para punakawan. Bagong, Petruk, Gareng mengamuk di bawah pimpinan Gatutkaca yang sangat marah.
” Duryudana perusak negara !! Hukum yang adil,” seru mereka sembari mencari mantan presiden Duryudana yang dianggap ciptakan sistem koruptor. Korupsi bahkan jadi budaya yang dianggap lumrah.
Tangan Mbilung ndorong tubuh Togog menjauh dari lensa teropong. Cepat, dia rebut teropong. Wajah Mbilung malah jadi tersenyum. ” Tenang. Kang. Walau ngamuk, juragan kita pasti bebas. Lha wong sakit saja. Si bos dicintai orang banyak hehe,” ujarnya.
Togog kembali tak jenak duduk. Dia berjalan hilir mudik, Ya .. orang hargai bos Duryudana karena dia punya uang segudang. Otak Togog bekerja keras coba – coba menghitung kemungkinan. Mbilung lalu mengulurkan segelas Bir Cap Kayu Cendana dingin. Uluran itu ditepis Togog. Mereka lantas terpaku dalam keheningan.
Selama mengabdi kepada Duryudana, Togog belum pernah tahu bahwa Duryudana dan keluarganya koruptor. Mereka baik kok sama wong cilik. ” Lung, aku ingin melacak apa benar kita ikut keluarga koruptor,” suara Togog pasti. “ Wis, koen ora usah reka-reka, Kang,” Mbilung cuek bicaranya.
Togog tetep teguh tekadnya. Dia mengubah diri menjadi Hyang Maya-maya dan mengambil cermin waktu di Kahyangan. Dia ajak Mbilung memasuki masa lalu.
Wess .. Terlihat seorang perempuan yang cantik. Putri Duryudana, Dewi Lesmanawati, tengah shopping di pertokoan mewah di sepanjang Paris, Prancis. Dia belanja pakaian dengan perancang busana yang selangit harganya. Segera Togog minta cermin waktu bercerita tentang Lesmanawati.
Cermin bergerak – gerak, … tek tak tik cek cek ... wess ... terlihat tulisan : Lesmanawati, anak kedua Duryudana, tumbuh menjadi ratu lebah dari bisnis Duryudana. Basis kerajaannya adalah Group Godong Koro Gung. Bisnis besar pertamanya adalah membangun dan mengoperasikan jalan tol. Pembiayaannya berasal dari dua bank pemerintah, sebuah perusahaan milik pemerintah, dan yayasan milik Duryudana.
Jalan tol yang dipunyainya menjelma menjadi bisnis paling menguntungkan di Hastina. Kerajaan bisnis Lesmanawati meliputi juga telekomunikasi, perbankan, perkebunan, penggilingan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, serta penyulingan.
“ Edan !! Ini bukan bisnis lagi, tapi angkara murka,” teriak Togog. Secepat kilat, Mbilung menutup mulut Togog dengan tissue. Togog glagepan. ” Huss kok nuduh koen, Kang cermin waktumu udah rusak kali, ” ujar Mbilung.
Setelah bisa bernapas, Togog mendelik ke Mbilung. ” Kami ini, Lung. Cermin ini pelacakan yang sangat canggih. Lihat ini lagi !!”
Dilayar cermin keluar tulisan lagi tentang Don Yuan Lesmana, anak pertama Duryudana, bersama dua teman bekas anggota kelompok band rock-nya. Mereka dibimbing masuk ke bisnis oleh Om Sengkuni. Bisnis di Bulog ( Badan Urusan Logistik ), mengimpor dan mendistribusikan bahan – bahan pokok. Misalnya terigu, gula, kacang, beras, puhung, klepon, bongkrek, tahu petis, dan pete godog.
” Stop !!” Seru Mbilung. ” Tuh kan, Lesmana hanya bisnis kecil, loh,” Mbilung masih berusaha membela.
” Bisnis kecil gundulmu, ” sela Togog.” Wong itu impor beras dan bongkrek saja untungya bisa miliaran. Apalagi, klepon. Duitnya bisa sak langit.”
Mbilung tetap membela. Togog ngotot. Mereka bersegitegang sampai mulut berbusa. Mendadak, terdengar ringkik kuda di layar cermin. Terlihat seperti film. Sengkuni dan Durmagati naik kuda menggiring sapi – sapi gemuk. Mereka menginjak – injak ladang yang sudah hancur. Seluruh petani dan lima desa di Hastina Barat hanya bisa menangis.
Seorang petani yang mencoba melawan langsung dihajar cambuk Durmagati sampai babak belur. ” Hayo, siapa yang berani menentang pembebasan tanah ini. Tanah ini mau dipakai bos Duryudana untuk peternakan sapi, ngerti ?”.
Para petani akhirnya pergi jadi tukang becak di kota – kota Hastina. Remuk hati Togog melihat gambar cermin. Mbilung Cuma diam. Tanpa diminta, mereka berdua tinggalkan istana Duryudana. Lebih baik hidup apa adanya daripada sejahtera tapi koruptor.(Cahyo)

SEMAR SUPER

Tali plastik batas penonton, metal detector terpasang di semua pintu masuk. Area VVIP disisir pasukan anti teroris. Piringan besar parabola berdiri di halaman pers room. Di sudut alun – alun, dua buah screen raksasa tertancap. Tenaga medis, ambulan, pemadam kebakaran disiagakan. Ngamarta punya gawe besar pemilihan penguasa Kayangan. Kemampuan intelektual ketiga kontestan tak diragukan lagi, tinggal sesi terakhir, adu kesaktian menelan gunung dan memuntahkan kembali. Deretan kursi VIP mulai terisi, Presiden Puntadewa, Presiden Rahwana, dan dubes serta konsul jendreal negara tetangga.
Suporter mengelu – elukan kontestan pertama, Togog. Semakin heboh Togog keluar dengan dandanan rambut potongan jabrik mowhawk full warna – warni. ” Boos untuk ajang ini, punya trik khusus apa ?” Tanya MC. ” Serius apaan, ni sih sepele, wadukku cukup elastis masih separo untuk satu gunung ” Bangga Togog sembari mengelus buncit perutnya. Let’s go, show it’s go on.
Helikopter khusus mendekat, membawa Togog ke Puncak Jaya Wijaya. Semua pandangan beralih kedua screen raksasa. Togog berdiri di atas salju Puncak Jaya Wijaya. Pelan – pelan berjongkok, mulut terbuka. Semua hewan liar berlarian ketika pelan tapi pasti puncak Jayawijaya diselimuti bibir elastis Togog. But, semua mata menegang, mata Togog melotot susah payah mencoba menelan dan selalu gagal. Untuk kembali mengeluarkan juga susah, Puncak Jayawijaya nyangkut di gigi gingsul Togog. Tim medis mengusulkan untuk segera dilakukan operasi. Operasi sukses tapi meninggalkan bibir Togog yang jadi ndower dan gagal jagi penguasa kahyangan.
” Babeh, gak takut tuh liat tadi, masih tetep maju ?” Tanya MC. ” Don’t worry, tetap maju, resep khusus telah disiapkan ” Jawab kontestan kedua, Semar. Helikopter khusus kembali terbang membawa Semar ke gunung puncak Slamet. Gunung terbesar sak Jawa. Semar mengawali dengan meneguk segelar air kopi. Dilanjutkan berjongkok, slruuup, lewat sebatang sedotan mulailah gunung Slamet berpindah kedalam perut Semar. Setiap kali beberapa sedotan Semar terlihat mengoyangkan seluruh badan dengan harapan timbunan gunung bertambah padat dan bertambah banyak yang tertelan. Diluar perhitungan Semar, timbunan tanah juga turun kebokong yang membesar segede Jawa. Petaka, Semar tak bisa bergerak sedikitpun. Tim medis juga angkat tangan untuk mengoperasi.
” Anda tak takut dengan kegagalan dua kontestan ” Tanya MC yang dijawab dengan acungan jempol oleh Manikmaya. Manikmaya telah siap dipuncak gunung Gede Pangrango. Dalam sekejap sekop raksasa telah berhasil memindahkan gunung keperut Manikmaya. Dan hoowwek, howek, cuuh gundukan gunung kembali ke asal. Para hadirin berdiri riuh bertepuk tangan. Langsung detik itu juga Manikmaya diambil sumpah sebagai penguasa Kayangan.
Pasukan pengawal special dan ribuan tamu langsung mengantar Manikmaya kekediaman barunya. Kedatangan rombongan disambut raungan sirine tanda bahaya. Gatotkaca, Antareja dan Antasena sigap bertindak. Ternyata posisi 60 LS - 70 BT Kayangan tiba – tiba raib. Terdeteksi bangsa Asyura sejenis Raksasa yang sakti dan bisa terbang yang telah mencurinya. Pasukan zeni tempur dikoordinasi menjelang detik – detik terakhir siap diturunkan. Keluar maklumat dari Manikmaya bahwa semua itu percuma akan sia – sia. Hanya ada satu cara yang bisa menghentikan yaitu Semar.
Pasukan pun dikerahkan untuk mengangkat tubuh berat Semar. Tubuh Semar dililit jalinan tali kuat dan dijadikan satu simpul. Dengan puluhan pesawat khusus dan helikopter tubuh Semar diangkat. Pesawat pelan mendekati tanah kahyangan yang terus bergerak menjauh. Tubuh Semar dicantolkan pada sebuah pengait dibawah tanah kahyangan yang dibawa terbang bangsa Asyura. Tanah pelan turun ke posisi semula. Bangsa Asyura yang terdiri dari para raksasa melarikan diri.
Tanpa sadar Semar telah menjadi penahan tanah kayangan selama 32 tahun. Dalam kurun waktu tersebut pergantian puncuk pemerintahan Ngamarta terjadi. Bima sudah jadi Presiden. Salah Satu Program Program Presiden Bima adalah pemberantasan korupsi sampai ke akar – akarnya. Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) sebagai alat kepanjangan tangannya. Pada waktu penelusuran kekayaan para pejabat, Semar tersangkut. Karena selama 32 tahun tak bekerja dan hanya menjadi penahan tanah Kayangan. Untuk memenuhi kebutuhan makan menggunakan bunga dana Yayasan Super Semar. Dari meja hijau diputuskan Semar segera dimasukkan hotel prodeo. Keputusan ini terhalangi kebijakan Manikmaya. Kayangan akan kacau balau bahkan mungkin hancur kalau Semar jadi ditahan hanya karena dia yang bisa menahan kedaulatan Kayangan. Agar tak dibawa terbang bangsa Raksasa ke luar negeri. Presiden Bima hanya bisa mengelus dada, kecewa, wong jelas koruptor kok masih dipakai menjaga kedaulatan negara Kahyangan.( Cahyo )